• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Tribun Jogja

Bayi Kembar Berkelamin Ganda Perlu Pengobatan Lama

Kamis, 14 April 2011 06:37 WIB
News Analysis untuk Kasus Bayi Kembar Berkelamin Ganda


Suryono Yudha Patria
Dokter Anak Fakultas Kedokteran UGM/RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta


 
JENIS kelamin manusia dibedakan menjadi jenis kelamin laki-laki, dan jenis kelamin perempuan. Secara umum pembedaan dua jenis kelamin tersebut berdasarkan tampakan luar kelamin masing-masing pada laki-laki atau perempuan.

Kita orang Indonesia, bila seorang bayi lahir, jenis kelamin merupakan hal penting untuk diketahui secara awal. Paling tidak hal tersebut untuk menyiapkan atau merencanakan nama bagi sang bayi, mengurus akte kelahiran, jenis warna pakaian, mainan, sampai merencanakan pola asuh, pendidikan, dan sebagainya.

Proses terjadinya dua jenis kelamin pada manusia ini sangat panjang dan kompleks, yang dimulai sejak sangat awal sekali kehidupan manusia yaitu sejak masa embrional,  dan berkembang terus sampai masa pubertas. Secara biologis memang sampai masa pubertas, tetapi secara psikologis terkadang membutuhkan waktu lebih lama lagi.

Dalam proses perkembangan jenis kelamin sejak embrional tersebut terkadang terdapat masalah atau gangguan yang akan berakibat munculnya ketidakpastian salah satu jenis kelamin. Ketidakpastian ini akan menimbulkan kesalahan dalam menentukan nama, pola mendidik, dan sebagainya. Karena nama seseorang sering tergantung jenis kelamin, maka orangtua akan memberi nama sesuai tampakan kelamin yang dominan setelah bayi lahir, walaupun terdapat masalah terhadap jenis kelamin tersebut.

Faktor Pengatur Pembentukan Jenis Kelamin

Paling tidak terdapat tiga faktor yang secara umum mengatur terbentuknya jenis kelamin laki-laki dan perempuan pada manusia, yaitu faktor genetik, hormon, dan lingkungan. Faktor genetik bekerja paling awal disusul kemudian oleh faktor hormon, dan terakhir faktor lingkungan.

Faktor genetik yang berpengaruh dapat dilihat dari kromosomnya, bila kromosomnya XY maka akan berjenis kelamin laki-laki sedangkan perempuan XX. Kromosom dan faktor genetik yang lain (gena) akan menentukan pembentukan gonad, yaitu akan menjadi gonad laki-laki (buah pelir) atau perempuan (ovarium). Setelah gonad terbentuk akan menghasilkan hormon sesuai jenis gonadnya.

Gonad laki-laki akan menghasilkan hormon-hormon (salah satu contohnya hormon testosteron) yang mengatur pembentukan organ kelamin laki-laki, sedangkan gonad perempuan menghasilkan hormon-hormon (salah satu contohnya hormon estrogen) mengatur pembentukan organ kelamin perempuan. Pada masa kehidupan di dalam rahim hormon-hormon tersebut di atas sudah diproduksi oleh janin, kemudian produksinya berhenti setelah lahir sampai menjelang masa pubertas.

Bentuk anatomi organ kelamin laki-laki dan perempuan yang berbeda pada manusia mayoritas ditentukan oleh dua faktor tersebut di atas. Selanjutnya faktor lingkungan akan menyelaraskan sesuai dengan jenis kelaminnya. Faktor lingkungan ini sangat berperan dalam pembentukan identitas, peran, oritentasi, dan kognitif gender melalui pola asuh, pergaulan, pendidikan.

Gangguan-gangguan terhadap tiga faktor tersebut akan berakibat munculnya permasalahan pada jenis kelamin, misalnya jenis kelamin yang tidak jelas, ketidaksempurnaan anatomis organ kelamin, kelamin ganda, dengan akibat selanjutnya pemberian nama yang tidak sesuai, dan ganti akte kelahiran. Dampak lanjut jangka panjang adalah masalah reproduksi kelak yang perkembangannya mulai saat masa pubertas.

 Apa yang perlu di lakukan?

Secara medis, terhadap setiap gangguan perkembangan jenis kelamin akan dilakukan pemeriksaan baik secara fisik, laboratorium, dan pencitraan (imaging) untuk merunut kembali masalah yang terkait tiga faktor di atas. Pemeriksaan-pemeriksaan ini bertujuan pertama untuk menentukan permasalahan atau menentukan diagnosis jenis penyakitnya, kedua, hasil pertama untuk mempertimbangkan penentuan jenis kelaminnya sendiri.

Dalam mengelola gangguan perkembangan jenis kelamin tersebut sering kali diperlukan suatu tim yang terdiri atas berbagai keahlian medis, psikologis, orangtua/pendamping dan atau pasien sendiri bila sudah dewasa, dan masyarakat yang terkait. Karena itu setiap layanan kesehatan yang mampu menangani gangguan perkembangan jenis kelamin seyogyanya mempunyai tim ini.

Gangguan pada faktor genetik dan hormonal biasanya bersifat kongenital, akibatnya penderita memerlukan pengobatan jangka lama. Bahkan untuk gangguan perkembangan jenis kelamin jenis tertentu memerlukan pengobatan seumur hidup untuk memelihara fungsi organ kelamin dan kesehatan secara umum. Kontrol yang rutin dan teratur diperlukan untuk mengetahui  hormonnya bekerja dengan baik atau tidak, dosisnya kurang atau berlebih, pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan baik tidak, adakah efek samping yang merugikan, dan lain-lain.

Permasalahan yang sering muncul justru saat penentuan jenis kelamin. Sebaiknya jenis kelamin (sebagai laki-laki atau perempuan) ditentukan sesuai dengan genetiknya, hormonnya, dan diikuti pola asuh. Tetapi terkadang oleh karena kondisi anatomi maupun psikologis yang tidak memungkinkan, kesesuaian ini sulit dilakukan. Keadaan ini tentu akan menimbulkan masalah lagi di kemudian hari terkait masalah reproduksi.

Dilihat permasalahan di atas, penderita gangguan perkembangan jenis kelamin memerlukan penanganan medis, administratif maupun hukum, dukungan finansial, dan psikologis yang berkelanjutan.  Mengungkap kasus gangguan perkembangan jenis kelamin secara umum juga harus mempertimbangkan beban psikologis keluarga ataupun pasien dan masa depan pasien (misalnya kasus anak kembar dengan gangguan perkembangan jenis kelamin yang pernah dimuat Tribun Jogja). Dukungan dan bantuan sangat diperlukan, terutama pada keluarga yang kurang mampu.
Editor: jun
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
7642 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas