Sabtu, 22 November 2014
Tribun Jogja
Home » Yogya » Sleman

Jalur Alternatif ke Magelang Cuma untuk Kendaraan Kecil

Kamis, 31 Maret 2011 11:28 WIB

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hendy Kurniawan

TRIBUNJOGJA, SLEMAN - Putusnya jembatan Pabelan di Magelang, Jateng, yang menjadi penghubung Yogyakarta - Magelang, menyebabkan perubahan rute perjalanan armada bus menuju Magelang / Semarang dan sebaliknya.  Menurut Rianto (41), sopir bus Ragil Kuning jurusan Jombor - Borobudur, kini ia harus memutar untuk sampai ke Borobudur maupun sebaliknya.


"Dari Jombor - Cebongan - Seyegan - Dekso - Kalibawang - Jagalan belok kiri ke arah Borobudur, lalu ke Magelang. Tapi jalur ini hanya bisa dilewati kendaraan kecil. Bus besar dan truk memilih jalur Kartasura atau Purworjeo," kata Rianto, saat ditemui di Terminal Jombor, Sleman, DIY, Kamis (31/3/2011).

Hal ini berpengaruh pada membengkaknya konsumsi solar dan menambah jauh jarak tempuh.  "Biasanya ke Borobudur bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam, sekarang bisa sampai 2,5 jam. Solarnya juga jadi boros, normalnya habis Rp 100 ribu, sekarang jadi Rp 170 ribu untuk pergi-pulang," keluhnya.

Untuk menyiasati membengkaknya ongkos solar, PO Ragil Kuning menaikkan tarif penumpang. "Sekarang tarif penumpang ke Borobudur menjadi Rp 15 ribu, dari sebelumnya Rp 10 ribu. Tapi penumpangnya juga sepi, kok. Bahkan hari ini hanya dua armada bus PO Ragil Kuning yang jalan, dari lima yang biasanya beroperasi," imbuhnya.

Sementara itu, bus Penumpang Terbatas (Patas) jurusan Yogya-Semarang harus lewat jalur Kartosuro-Boyolali-Salatiga-Bawen-Ungaran-Semarang, paska putusnya jembatan Pabelan.

"Jarak tempuhnya jadi lebih lama satu sampai dua jam, jika lewat Kartosuro. Tentunya berpengaruh pada konsumsi solar, sebelumnya untuk sekali jalan habis Rp 200 ribu, sekarang bisa sampai Rp 300 ribu," terang Rianto, sopir bus patas PO Nusantara jurusan Yogya-Semarang.

Namun, PO Nusantara tidak menaikkan tarif penumpang meski terjadi perubahan jalur. "Tarif ke Semarang tetap Rp 35 ribu, tapi biasanya penumpang melebihkan uang yang dibayarkan. Rata-rata penumpang memberi tambahan Rp 10 ribu," ucap Harianto.

Dari pantauan Tribun, kondisi Terminal Jombor sampai pukul 10.00 WIB, masih sepi penumpang.

"Karena penumpangnya sepi, jadwal pemberangkatan bus jadi molor. Seharusnya saya sudah berangkat ke Semarang jam tujuh pagi tadi, tapi sampai sekarang belum juga berangkat. Karena kita tidak berani berangkat kalau penumpangnya tidak mancapai 30 orang," papar Harianto.

Hal yang sama juga dirasakan beberapa sopir bus jurusan Yogya-Semarang. "Bahkan bus kelas ekonomi jurusan tersebut, hanya beroperasi sampai Muntilan, selebihnya penumpang dioper dengan bus jurusan Magelang-Semarang yang menunggu di utara Jembatan Pabelan," papar Supriyono, sopir bus ekonomi jurusan Yogya-Semarang.

Koordinator Terminal Jombor, Margi Susanto menjelaskan, putusnya Jembatan Pabelan berdampak signifikan terhadapnya jumlah penumpang.

"Kemungkinan penurunan jumlah penumpang dapat mencapai 75%, normalnya sampai pukul 12.00 penumpang bisa sampai 200 orang, tapi sampai saat ini 100 orang belum ada. Tentunya akan berpengaruh pada pendapatan retribusi," jelas Margi.

Menanggapi kenaikan tarif bus, Margi sudah melakukan pemantauan terhadap PO yang ada di Terminal Jombor. "Kenaikan tarif penumpang memang ada, tapi itu kesepakatan antara kru bus dengan calon penumpang. Para kru menjelaskan kepada calon penumpang jika ada kenaikan tarif, penumpang juga menyadari kenaikan tersebut kok. Saya sudah berpesan kepada kru bus, yang penting antara pihak PO dan penumpang tidak saling merugi," imbuhnya.

Pihak Terminal Jombor, tambahnya, menyediakan nomor telepon yang bisa diakses masyarakat untuk mencari informasi mengenai armada bus maupun jalur alternatif menuju Magelang / Semarang.  "Masyarakat bisa menghubungi nomor 0274-868084. Kami akan siaga memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat, terkait dengan jalur transportasi," pungkas Margi.
Editor: jun

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas