• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribun Jogja
Home » Ekbis

Harga Obat Naik 5-10% hanya di Produk Ethical

Senin, 21 Februari 2011 23:37 WIB
Harga Obat Naik 5-10% hanya di Produk Ethical
TRIBUNJOGJA.COM/HASAN SAKRI
Contoh obat-obatan di apotik Yogya
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebanyak 182 obat paten dari daftar 607 obat paten mengalami kenaikan harga. Dari pantauan Tribun Jogja di beberapa apotek di DIY, obat paten yang didistribusikan PT Enseval Putera Megatrading tersebut merupakan obat ethical alias obat yang harus ditebus dengan resep dokter.

"Naiknya sekitar 5 sampai 10 persen," ucap Apoteker Dina Farma Jalan Magelang, Devi Bina Susanti saat ditemui Tribun Jogja Jumat (18/02/2011). Menurutnya, kenaikan harga obat paten ini berlaku mulai Februari 2011 ini. Namun, ia mengaku tidak semua jenis obat paten yang harganya naik dijualnya. "Contoh yang naik adalah Vomilat tablet yang semula dijual Rp 630, kini dijual Rp 666," ucapnya.

Seperti tertera pada tarif harga PT Enseval, jenis obat yang mengalami kenaikan harga antara lain Broadced hospital, Broadced injection, Vomilat, Cefizol dan Zegafit. Masih dari sumber yang sama, pabrikan yang memproduksi obat paten antara lain produk Holistic Care dari Kalbe Vision, Oncology, Electra, Interbat serta Falcon. Sementara produk ethical antara lain Bimasakti, Uranus, Venus, dan Andromeda.

Ia mengatakan, selain obat paten, harga beberapa obat generik juga ikut naik. Ia mengaku tidak tahu mengapa harga obat ini terus naik. "Dari distributornya sudah diberi harga segitu," akunya.

Selaku konsulat obat, ia sering mendengar keluhan masyarakat akan naiknya harga obat. Menurut pengamatannya, kenaikan harga obat terakhir kali dialaminya tahun 2009. "Trend-nya naik terus, tidak pernah turun," keluhnya.

Sementara itu, secara terpisah PT Enseval belum bisa memberikan klarifikasi. Menurut pihak customer service yang dihubungi Tribun Jogja Senin (21/02/2010), kebijakan tersebut merupakan kewenangan prinsipal alias pabrikan. PT. Enseval sebagai distributor obat hanya berwenang untuk mendistribusikannya saja.

Sementara itu, pihak prinsipal Kalbe Farma menyanggah akan banyaknya jenis obat dari pabrikannya yang mengalami kenaikan hingga 10 persen. Menurut seorang Marketingnya, dari 12 obat paten Kalbe Farma yang didistribusikan oleh PT Enseval, hanya sekitar 3-4 jenis obat yang mengalami kenaikan harga. "Itupun kenaikannya tidak sampai 5 persen," tegasnya saat dihubungi Tribun Jogja lewat telepon.

Menanggapi kenaikan harga obat paten tersebut, Dinas Kesehatan DIY tidak bisa melakukan apa-apa, karena bukan kewenangan pemerintah. "Pemerintah hanya berwenang mengatur obat generik saja," ucap Kepala Seksi Farmasi Dinas Kesehatan DIY, Hardiah Djuliani.

Ia mengatakan, kebijakan harga obat paten dipegang oleh masing-masing pabrik. Menurutnya ada banyak faktor mengapa obat menjadi mahal. "Mungkin karena bahan bakunya, biaya produksi, pemakaian listrik, ataupun pajak," paparnya.

Ia menyarankan, jika pasien terbebani dengan harga obat paten, pasien bisa mengganti pemakaian obat paten dengan obat generik. Menurutnya, substitusi obat ini tidak mengurangi khasiat obat. "Meskipun belum semua obat paten disubstitusikan ke obat generik, tapi mayoritas sudah ada," terangnya.

Selain itu, lanjutnya, pasien juga berhak untuk meminta pada dokter periksanya untuk diberikan resep obat generik yang harganya lebih terjangkau. Ia juga mengatakan, dokter-dokter di rumah sakit pemerintah wajib menawarkan resep obat generik bagi pasiennya. "Generik lebih murah, namun bukan berarti obat murahan," tegasnya.
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas