Minggu, 21 Desember 2014
Tribun Jogja

Inilah, Sugiyo Sang Eksportir Gula Semut ke Jepang

Sabtu, 8 Januari 2011 22:28 WIB

Inilah, Sugiyo Sang Eksportir Gula Semut ke Jepang - Pengusaha_gula_semut,_Sugiyo,_saat_ditemui_di_rumahnya,_Dusun_Penggung,_Desa_Hargorejo,_Kecamatan_Kokap,_Kulon_Progo._.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/EDI CAHYONO
Pengusaha gula semut, Sugiyo, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (08/01/2011), Dusun Penggung, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kulon Progo.
Inilah, Sugiyo Sang Eksportir Gula Semut ke Jepang - Gula_semut,_yang_belum_dikemas_dan_baru_saja_matang_di_UD_Sumber_Rejeki,_Dusun_Penggung,_Desa_Hargorejo,_Kecamatan_Kokap,_Kulon_Progo,_Yogya.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/EDI CAHYONO
Gula semut, yang belum dikemas dan baru matang, Sabtu (08/01/2011), di UD Sumber Rejeki, Dusun Penggung, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kulon Progo.
Laporan Wartawan Tribun Jogja : Edi Cahyono



TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Aroma keharuman gula jawa, begitu semerbak, saat melangkah memasuki, rumah Sugiyo (53), pengusaha Gula Semut, Sabtu (08/01/11). Rumah sekaligus tempat produksi Gula Semut, berada di Dusun Penggung, RT70/RW21, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kulon Progo.

Memakai kaus putih, berkerah hitam, dan celana hitam, lelaki paro baya ini, ketika kami temui. Gula semut, produksinya, telah berhasil menembus pasar di Jepang. Ia mengaku, banyak belajar mengenai standar produk yang prima, dari orang negeri sakura ini.

"Butuh waktu sampai setengah bulan, untuk meyakinkan buyer dari Jepang," kata Sugiyo. Mereka diakuinya sangat teliti, selama kurun waktu dua minggu, orang-orang Jepang ini, mengawasi proses produksi Gula Semut.

Tak ada satupun yang luput dari pengamatan mereka. Mulai dari bahan baku, proses pengolahan, pengemasan produk, sampai manajemen pemasarannya. "Waktu itu sekitar lima orang, datang ke tempat saya," tambahnya.

"Mereka sangat mengutamakan, kebersihan dan hyiegenisnya produk, termasuk peralatan yang digunakan, dan diharuskan sesuai standar mereka," jelasnya dengan penuh semangat. Orang Jepang mengetahui produknya, setelah ia membuat website, www.gulasemutjogja.com, "Untuk menembus pasar yang lebih luas," jawabnya, sambil tersenyum simpul.

Gula semut merupakan zat pemanis yang dihasilkan dari nira kelapa yang dikristalkan. Gula Semut yang diekspornya setiap bulan, mencapai 1 - 12 ton. Jumlah itu, tergantung dari kebutuhan pasar yang ada di Jepang. Ekspor gula ke Jepang ini, sudah dilakukannya, kurang lebih sekitar lima tahun. "Untuk yang kami ekspor ke Jepang, dalam kemasan plastik dan karung," imbuh Ketua Pengrajin Gula Kelapa, di Hargorejo ini.

Harga jual dari gula semut, Rp 10 ribu untuk bahan baku, sedangkan Rp 20 ribu, bila sudah diolah menjadi bentuk kristal. Selain dipasarkan ke luar negeri, produksi gulanya juga dipasaran lokal, terutama Jakarta.

Industri rumahan milik Sugiyo, ini bernama UD Sumber Rejeki. Ia dibantu dengan anak dan istrinya, beserta tiga karyawan, mengelola usaha yang dirintisnya sejak tahun 90 an. 

Pada awalnya, hanya membuat gula jawa seperti kebanyakan, Kini ia bersama anggota kelompoknya berjumlah sekitar 100 orang ini, menjadikan usaha gula semut, sebagai usaha sampingan yang cukup menjanjikan.

UD Sumber Rejeki milik Sugiyo, sebagai inti yaitu sebagai penampungan dan pengemasan. Sedangkan anggota kelompok perajin gula jawa, sebagai plasma.

"Membuat gula semut, seperti gula jawa biasa," kata Tumirah (61), seorang karyawan di UD Sumber Rejeki.

Ia menambahkan, perbedaannya, gula jawa yang sudah jadi, dipanaskan lagi, agar lunak, kemudian dimasak ulang. Lalu dikeringkan memakai oven, kemudian diayak, sehingga terbentuk menjadi kristal.

Kini sangat digemari, karena kadar glukosanya yang rendah, cukup aman bagi penderita berpenyakit gula alias penderita diabetes.



TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas