TribunJogja/
Home »

DIY

Daerah Sleman

Eskpresimu adalah Identitasmu

Dengan gerak dan kontak fisik, anak merasa diterima oleh orang lain

Laporan Wartawan Tribun Jogja : Anugerah



TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pakar penanganan pasca bencana dari Universitas Leipzig, Marcus Stueck datang ke program studi psikologi, Universitas Islam Indonesia (UII) untuk membantu penanganan para korban Merapi. Di sini ia memberikan pelatihan Biodansa, sebuah metode penanganan pasca bencana yang ditemukan oleh rekannya, penari beken asal Cili, Rolando Toro. "Ekspresimu adalah identitasmu," kata Marcus menyimpulkan konsep Biodansa pada Tribun Jogja di Kampus UII, Sabtu (8/1).

Marcus mengatakan, metode yang ia ajarkan menyasar kepada beberapa faktor, antara lain relasi, vitalitas, aktivasi motorik, relaksasi, dan kreativitas. "Setiap faktor memiliki kekuatan yang sama," ujarnya.

Ia mencoba menghidupkan beberapa faktor tersebut lewat gerak, musik, dan kontak dengan orang lain dengan cara yang menyenangkan. "Tujuannya supaya anak bisa relaks, membuka kesadaran dirinya, sehingga ia bisa mengekspresikan perasaannya," jelas pria bertubuh tinggi besar ini.

Marcus mengatakan, bencana alam seperti meletusnya Gunung Merapi sangat berpotensi membuat anak sedih berkepanjangan, menjadi trauma dan tertutup. "Biodansa mengutamakan gerak dan kontak fisik dengan orang lain, sehingga anak bisa merasa diterima oleh orang lain," jelasnya.

Sebagai variasi jenis metode, Marcus mengatakan ada sepuluh sesi dalam Biodansa, masing-masing menggunakan nama negara yang berbeda. "Karena hanya dua hari, saya hanya bisa mengajarkan enam sesi, Spanyol, Mesir, Tanzania, Cili, Cina, dan Rusia," katanya. Setiap sesi memiliki ciri khas gerak dan musiknya masing-masing.

Sistem yang digunakan dalam Biodansa adalah menggerakkan motorik, sehingga menimbulkan proses tertentu dalam tubuh manusia. Musik yang digunakan juga mendukung gerak, sehingga pendalaman gerakan menjadi semakin mantap. "Dari situ, ekspresi seseorang akan terdorong keluar," jelasnya.

Apabila ada anak yang merasa kesulitan mengekspresikan dirinya dalam proses Biodansa, Marcus mengatakan tidak bisa memaksa anak tersebut. "Ini adalah proses yang membutuhkan waktu. Biodansa hanya pintu untuk membantu membuka perasaan anak," kata Marcus.

Dalam waktu yang sama, UII juga mengadakan seminar tentang disleksia, sebuah gangguan membaca dan menulis, yang dibawakan oleh rekan Marcus dari Universitas Leipzig, Evelin Witruk.

Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help