Minggu, 23 November 2014
Tribun Jogja

Tiap Tahun 163 Kali Longsor di Gunungkidul

Selasa, 4 Januari 2011 20:01 WIB

Tiap Tahun 163 Kali Longsor di Gunungkidul
TRIBUNJOGJA.COM/HASAN SAKRI GHOZALI
Laporan : Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA, WONOSARI  -
Tanah longsor di Kabupaten Gunung Kidul mencapai 163 kejadian dalam kurun waktu lima tahun. Menurut keterangan Kepala Sub Bidang Mitigasi dan Tanggap Darurat Kesatuan Bangsa Politik Perlindungan Masyarakat dan Penanggulangan Bencana (Kesbangpolinmas dan PB) , Nugraha Wahyu (35), kejadian tanah longsor hampir terjadi tiap tahun. "Hampir dipastikan ada kejadian tanah longsor tiap tahunnya," katanya.

Saat ditemui Tribun Senin (04/12/2010) Wahyu menjelaskan juga ada enam kecamatan yang menjadi titik rawan yaitu Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin, dan Ponjong. "Hampir semua kejadian tanah longsor merata di enam kecamatan tersebut, " kata pria asal Klaten tersebut.

Dari data yang diberikan, tercatat ada 33 kejadian tanah longsor di tahun 2005, 35 kejadian tanah lonsor di tahun 2006, 32 kejadian tanah longsor di tahun 2007,  25 kejadian di tahun 2008, 18 kejadian di tahun 2009, dan 20 kejadian di tahun 2010. Kejadian yang terbaru adalah kejadian di awal tahun 2011, yaitu tanah longsor di kecamatan Ngawen.

Menurut master Geografi UGM ini, semua kejadian berada di bagian utara atau biasa disebut 'Batur Agung'. "Kondisi topografi dan kemiringan tanah di daerah ini cukup curam dan potensial terhadap kelongsoran," katanya. Gedangsari juga dikatakannya sebagai titik rawan longsor tertinggi dari enam titik yang ada.

"Konstruksi bebatuan breksi yang kedap air membuat air tidak meresap tapi meluncurkan tanah, akibatnya tanah longsor dan terkikis," jelasnya.

Menurutnya, konstruksi bebatuan breksi akan menyebabkan air sulit meresap sehingga tidak ada resapan di tanah dan justu meluncurkan tanah.

"Secara natural, ke enam titik tersebut berkonstruksi batuan breksi, bahkan kemiringan daerahnya ada yang mencapai 80 derajat," imbuhnya.

Selain konstruksi tanah dan bebatuannya, Sarjana pertanian ini juga menjelaskan bahwa kejadian tanah longsor itu juga berkaitan dengan gempa tahun 2006 yang mengguncang Yogyakarta.

"Ada kemungkinan bebatuan yang retak akibat guncangan gempa 2006 silam, sehingga menyebabkan longsor," katanya. Dia juga menjelaskan bahwa ada kemungkinan kecil akar-akar pohon turut andil memecahkan bebatuan di sekitar daerah rawan bencana.

Wahyu juga menjelaskan bahwa untuk menanggulangi daerah rawan bencana, sudah ada sosialisasi kepada masyarakat. "Pihak pemerintah kabupaten sudah melakukan sosialisasi untuk menghimbau masyarakat daerah rawan bencana pindah atau direlokasi," katanya.

Namun, saat ini masih ada kendala dari dalam masyarakat itu sendiri. "Namanya masyarakat, pasti sulit disuruh pindah apalagi daerah tersebut sudah menjadi tempat aktifitas dan hidup mereka," pungkasnya.(*)

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas